Comments

3/recent-comments
Tampilkan postingan dengan label TARBIYAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TARBIYAH. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 Januari 2015

Karakteristik Da'wah Islam


Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik".

Dakwah Islam memiliki beberapa karakter yang menggambarkan bagaimana Islam sebenarnya. Dakwah Islam adalah dakwah yang juga mempunyai karakter dan sifat-sifat Islam itu sendiri. Dengan memahami karakter ini maka kita mendapatkan suatu pemahaman yang jelas tentang dakwah. Kesadaran akan dakwah pun muncul sehingga kita dapat mengembangkan dan memelihara dakwah ke masyarakat.

Di antara ciri-ciri dakwah adalah Rabbaniyah, Islamiyah qobla jam’iyah, syamilah ghoiru juz’iyah, mu’ashirah ghoiru taqlidiyah, mahaliyah wa ‘almiyah, ‘ilmiyah, bashirah Islamiyah, mana’ah Islamiyah, inqilabiyah ghoiru tarqi’iyah.

Dengan ciri-ciri dakwah ini, akan dapat menjelaskan bagaimana sebaiknya dakwah dan jamaah Islamiyah. Penggambaran ciri dakwah ini juga akan membentuk suatu fikrah dan kesadaran bagaimana dakwah yang baik, benar, dan perlu diikuti.

1. Khoshoisud da’wah

Khoshoisud da’wah adalah ciri-ciri dakwah atau jamaah. Berbagai ciri-ciri ini ada yang berkaitan dengan program, sasaran, sifat, aktivitas, dan proses perjalanan dakwah. Penggambaran ciri dakwah ini hanyalah sebagian saja tetapi semuanya merupakan bagian dari sifat dan ciri Islam itu sendiri. Ciri dakwah yang disampaikan disini adalah sebagian saja karena luasnya ciri dakwah Islam yang dimiliki. Ciri dakwah Islam sesuai dengan ciri Islam itu sendiri. Penjabaran ciri-ciri di bawah ini hanyalah berkaitan dengan hal-hal yang penting saja atau yang dapat dijadikan sasaran.

2. Rabbaniyah
Dakwah yang rabbani adalah dakwah yang merabb (berorientasi kepada tuhan). Segala elemen di dalam dakwah diorientasikan kepada Allah; berawal dari Allah, berakhir pun kepada Allah. Rabbani berarti segala aktivitas dakwah Islam harus merujuk kepada Allah sebagai rabb. Minhaj dan ghoyah harus dikembalikan kepada Allah SWT. Beberapa petunjuk yang dapat dijelaskan disini adalah ciri dakwah rabbani berarti mereka yang terlibat dalam dakwah harus melakukan tadarus dan ta’lim. Pelaku dakwah rabbani harus memiliki sifat yang tidak lemah, tidak bersedih hati, tidak wahn tetapi berani dan siap berhadapan dengan siapapun. Dakwah rabbani juga menjunjung tinggi syura yang merujuk kepada Allah (sumber), Rasul (cara), dan ulil amri (nizam).

Dakwah rabbani juga mengambil aqidah dan tauhid sebagai sesuatu yang utama, warna akhlak Islamiyah, ukhuwah Islamiyah, dan jihad juga merupakan ciri dakwah rabbani. Dakwah rabbani juga bertumpu kepada tarbiyah takwiniyah dalam membentuk kader dan kemudian menerjunkan kader kedalam masyarakat melalui ketokohan, kepakaran, dan keikutsertaan.

Dalil
Al Qur’an Surat Ali Imron 3:79 ;
Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah." Akan tetapi (dia berkata): "Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani[208], karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya”.
·
Al Qur’an Surat Ali Imron 3:146 ;
Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.

3. Islamiyah qobla jam’iyah
Islam mengajak dan menyeru perasatuan bukan perpecahan. yang disampaikan dan menjadi agenda utama dakwah adalah Islam itu sendiri. Organisasi hanyalah merupakan alat dan cara. Diantara penyebab perpecahan adalah ta’asub dengan jamaah atau kumpulan. Allah SWT berfirman agar melarang kita berpecah belah dan berbangga-bangga dengan kumpulan, tetapi Allah SWT menyuruh kita bersatu di dalam Islam melalui aqidah Islamiyah dan I’tisham bihablillah.

Islamiyah qobla jamiyah bukan menafikan peranan jamaah atau tidak memerlukan jamaah atau kumpulan. Pernyataan ini adalah usaha meluruskan dan untuk menduhulukan Islam dari jamaah sehingga mengenal Islam dan sadar Islam adalah prioritas utama yang kemudian dapat menerima peranan jamaah setelah kesadaran Islam. Hal ini akan membentuk sikap kepada pribadi untuk menerima semua golongan atau mau berdakwah kepada semua golongan sehingga memudahkan munculnya dakwah ustadziyatul ‘alam.

Pembedahan jamaah diberikan setelah kesadaran mad’u kepada Islam sehingga penerimaan jamaah dilakukan dengan cara yang baik. Sikap kepada jamaah sebagai wasilah dan bukan satu-satunya tujuan walaupun jamaah digunakan untuk membawa dakwah kita.

Pendekatan Islamiyah juga berarti juga kita memberikan bagaimana semestinya kita seorang muslim dengan dakwah Islamiyah akan terbentuk syakhshiyah Islamiyah. Siapakah yang menjalankan dakwah ini? Jawabannya adalah jamaah. Memberikan fikrah mengenai ciri-ciri dakwah Islam adalah usaha untuk mengajak manusia ke dalam jamaah setelah mereka memerlukan atau memahami kepentingannya.

Dalil
Al Qur’an Surat Ar Ruum 30:31-32 ;
dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka[1169] dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.

Al Qur’an Surat Al Hujurat 49:13 ;
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.
Al Qur’an Surat Ali Imron 3:103 ;
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.

4. Syamilah ghoiru juz’iyyah
Dakwah Islam adalah sesuai dengan nilai Islam sehingga dakwah Islam harus bersifat syamilah (sempurna). Dakwah tidak boleh juz’iyyah (parsial). Islam adalah satu kesatuan sistem yang bagian-bagiannya tidak terpisahkan satu sama lain. Syamilah dari segi program, aktivitas, tujuan, dan minhaj. Dakwah yang syamilah juga mencakup bidang tarbiyah, dakwah dan sosial, budaya, politik, ekonomi dan pertahanan dan keamanan. Aspek ini harus dibicarakan oleh dakwah. Tanpa membahas masalah ini atau hanya membahas masalah dakwah saja maka dakwah bersifat juziyah.

Dakwah syamilah juga menekankan peranan dan aktivitas dakwah yang membahas masyarakat dan keahlian, dakwah juga bertumpu kepada jihad dan tegaknya syariat. Dakwah syamilah berperan di dalam membangun masyarakat melalui potensi dirinya.

Pemahaman terhadap dakwah syamilah ini akan membuka pemikiran aktivis perlunya dakwah dan agar Islam dapat diterima masyarakat. Diterimanya aktivis oleh masyarakat tentunya mempunyai beberapa ciri misalnya karena tokoh, status, kemampuan, kepakaran, dan lain sebagainya. Untuk memcapai ciri ini maka dari sekarang jamaah dan dakwah sudah memikirkan dan bergerak dengan berbagai bidang.

Dalil :
Al Qur’an Surat Al Baqarah 2:208 ;
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.

Al Qur’an Surat Al An ‘am 6:161-162 ;
Katakanlah: "Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang musyrik." Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.

5. Mu’ashirah ghoiru taqlidiyah
Dakwah bersifat mu’asirah (kontemporer) dan tidak taqlidiyah (kuno).Dakwah harus selalu dapat menjawab dan menyelesaikan problematika zaman. Segala yang berbau dakwah tidak ada yang kadaluwarsa. Pendekatan dakwah secara minhaj harus mengikuti asholahnya yaitu Al Qur’an dan Sunnah walaupun ada yang menyebutkan bahwa pendekatan ini adalah kuno. Tetapi secara uslub seperti wasilah dan strategi harus canggih dan mengikuti perkembangan semasa.

Pendekatan mu’asirah berarti mengambil situasi dan kondisi, peristiwa, sikap, keperluan dan kemudian dikaitkan dengan sasaran. Pendekatan mu’sirah di dalam dakwah misalnya dakwah dengan internet, power point dan sebagainya.

Dakwah mu’asirah juga menggunakan pendekatan semasa seperti partai, pemilu dan sebagainya. Peperangan juga dilakukan dengan senjata yang canggih bukan dengan panah atau pisau, begitu kendaraan tidak dengan kuda atau unta.

Pendekatan taqlidiyah adalah pendekatan kuno yang tidak memperhatikan perkembangan zaman dan merujuk secara buta kepada sesuatu yang kuno dan mungkin tidak lagi sesuai dengan keadaan sekarang. Sikap taqlid juga muncul karena kurangnya pengetahuan sehingga mengikuti sesuatu tanpa pemahaman yang jelas, atau melaksanakan sesuatu tanpa ilmu.

6. Mahaliyah wa ‘alamiyah
Dakwah Islam sesuai dengan nilai Islam yang universal. Islam mempunyai sifat semestawi. Namun Islam juga memasyarakat. Artinya, dakwah Islam juga memberikan perhatian yang sama seriusnya kepada permasalahan lokal. Islam adalah agama untuk semua manusia dan juga rahmat bagi seluruh alam. Kahadiran Islam adalah mendunia dan juga untuk kebahagiaan makhluk, khususnya manusia. Dakwah yang global dan dunia adalah ciri dakwah Islam, oleh karena itu dakwah dan jamaah juga harus bertaraf internasional. Ummat Islam ada di segala penjuru dunia maka dakwah dan jamaah pun harus ada di penjuru tersebut. Tandzim dan jamaah di setiap negeri haruslah berkaitan juga dengan tandzim yang ada di luar dn menyatu di dalam kekuatan dakwah Islam.

Walaupun dakwah adalah bersifat internasional tetapi operasional kita adalah mahaliyah (tempat). Tempat dimana kita berada, berdiri, dan menginjakkan kaki itulah sebagai tempat dakwah kita, tetapi secara fikrah dan hubungan harus bertaraf internasional. Dengan demikian ta’awun dan kesatuan ummat akan terwujud.

Jamaah dan dakwah sepakat bahwa ini lebih kepada qotr atau negeri misalnya jamaah atau dakwah yang sebatas Malaysia dan tidak berhubungan secara struktur dengan dakwah dan jamaah di luar. Padahal suatu kenyataan yang kita hadapi bahwa musuh Islam bersifat Internasional, mereka pun bersatu untuk melawan kita dan menghancurkan secara berjamaah dari berbagai arah di dunia. Keadaan demikian juga menuntut kita untuk melakukan dakwah secara internasional, selain untuk menghadapi musuh juga untuk menegakkan syari’ah.

Tuntutan dunia ke arah globalisasi juga akan membawa dakwah Islam dilakukan secara mendunia dan global, terbuka serta universal.

Dalil :
Al Qur’an Surat Saba 34:28 ;
Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.
Al Qur’an Surat Al Anbiya 21:107 ;
Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.

7. ‘Ilmiyah
Dakwah yang islami adalah dakwah yang berjalan melalui pendekatan ilmiyah, sehingga muncul kesadaran Islam.Dakwah Islam selalu berusaha memberikan kesadaran islami. Karena Islam bukan dogma. Islam membangkitkan kesadaran atas dasar makrifat dengan hujjah yang nyata. Pendekatan kuliah, ceramah, perbincangan, latihan adalah sebagian usaha pendekatan dakwah secara ilmiyah. 

Tanpa pendekatan ilmiyah, maka dakwah akan diikuti oleh mereka yang taqlid, bodoh, tidak sadar dan ikut-ikutan sehingga akan membahayakan jamaah itu sendiri. Allah SWT melalui firmannya di dalam Al Qur’an atau Muhammad SAW melalui sabdanya di dalam hadits selalu menekankan ilmu dan cara pendekatan Qur’an dan Hadits dengan cara ilmiyah yaitu usaha menyadarkan Islam bukan memaksa dan juga bukan memberikan tekanan. Masalah tekanan dan paksaan adalah sesuatu yang dilarang oleh Islam. Pendekatan ilmiyah ini mengajak manusia berfikir dan mengerjakan amalan Islam secara bertahap mengikuti pemahaman dan kesadaran. Cara demikian akan menghasilkan suatu cara yang sangat efektif dalam membentuk kesadaran Islam.

Dalil:
Al Qur’an Surat Al Isro 17:36 ;
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.

Al Qur’an Surat AL Baqarah 2:256 ;
Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut[162] dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

8. Bashirah Islamiyah
Keterangan yang nyata dengan bukti yang jelas dan benar adalah sifat Islam. Gagasan, konsepsi, dan pemikiran yang ada di dalamnya selalu islami, tidak sekuler, materialis, kapitalis, liberal dan sejenisnya. Dakwah harus mendasarkan minhaj dan programnya kepada Islam. Dalil-dalil, rujukan, dan panduan dari Islam adalah ciri dakwah Islam, bukan minhaj yang berasal dari luar Islam.

Keadaan yang dapat menipu adalah keadaan orang putih yang sudah maju dan mengeluarkan banyak produknya misalnya masalah manajemen. Hal ini dapat mempengaruhi kita memakai teori-teori itu tanpa dipilih atau dilihat menurut Islam. Manajemen Barat berbeda dengan manajemen Islam. Penerapan manajemen Barat ke dalam dakwah dan jamaah Islamiyah adalah suatu yang keliru atau akan menghancurkan dakwah itu sendiri. Hal ini adalah suatu bukti dari dakwah yang tidak berdasarkan bashirah Islamiyah.

Masalah yang berkaitan dengan dugaan atau pengalaman yang terbatas juga akan menghambat sikap kepada bashirah Islamiyah. Oleh karena itu perlu rujukan yang kuat kepada Islam, sehingga Islam mewarnai gerak dakwah kita.

9. Mana’ah Islamiyah
Dakwah Islam harus mempunyai ciri-ciri mana’ah (kebal/benteng) Islam. Untuk mencapai ini maka dakwah berorientasi kepada pencapaian penguasaan teori (istiab nadhori), penguasaan moral (istiab ma’nawi) dan penguasaan amal (istiab amal).

Penguasaan teori ini dicapai apabila pribadi yang didakwahi diberi bekal dengan pengenalan kepada prinsip Islam (ma’rifatul mabda’) seperti rukun Islam, rukun iman, dan prinsip lainnya. Selain itu juga mad’u perlu diberi pengenalan kepada fikrah (ma’rifatul fikrah) dan pengenalan minhaj (ma’rifatul minhaj). Ketiga pengenalan ini dilakukan agar mencapai penguasaan teori. Biasanya bahan-bahan tamhidiyah I (level UK) diusahakan untuk mencapai sasaran ini.

Penguasaan moral dicapai dengan cara menumbuhkan melalui latihan, amalan, dan aplikasi yaitu kehendak yang kuat (al wafa tsabit). Sasaran ini dicapai dengan mengamalkan konsep yang sudah difahami dalam bentuk amal, biasanya dalam bentuk latihan, tugas, dan program bersama yang dilakukan.

Sedangkan penguasaan amal dicapai dengan gerakan yang terus-menerus (harakah mustamirah) dan semangat pengorbanan (ruhul bazl). Tadzrib, tamrinat dan sebagainya adalah cara dakwah mencapai penguasaan amal ini.

10. Inqilabiyah ghoiru tarqi’iyyah
Perubahan yang dikehendaki oleh dakwah adalah perubahan yang bertahap di dalam proses yang dikehendaki untuk mencapai sasaran yang ditentukan. Perubahan tidak mendadak dan asal jadi saja tetapi lebih kepada perubahan yang bertahap (inqilabiyah) mengikuti kemampuan, kefahaman, dan level mad’u.

Dengan perubahan yang demikian maka dapat menghasilkan pribadi yang furqon sehingga muncul pribadi yang kuat.

Kamis, 29 Januari 2015

Izinkan aku untuk cuti dari da'wah



Jalanan ibukota masih saja ramai hingga larut malam ini, dengan kendaraan yang terus berlalu lalang, juga dengan kehidupan manusia-manusia malam yang seakan tidak akan pernah mati. Namun kini hatiku tak seramai jalanan di kota ini. Sunyi… Itulah yang sedangku rasakan. Bergelut dengan aktifitas da'wah yang menyita banyak perhatian, baik tenaga, harta, waktu dan sebagainya, seakan menempa diriku untuk terus belajar menjadi mujahid tangguh. Tapi kini, hatiku sedang dirundung kegalauan. Galau akan saudara-saudaraku dalam barisan da'wah yang katanya amanah, komitmen, bersungguh-sungguh namun seakan semua itu hanyalah teori-teori dalam pertemuan mingguan. Hanya dibahas, ditanya-jawabkan untuk kemudian disimpan dalam catatan kecil atau buku agenda yang sudah lusuh hingga pekan depan mempertemukan mereka lagi, tanpa ada amal perbaikan yang lebih baik. Ya… mungkin itu yang ada dibenakku saat ini tentang su'udzhan-ku terhadap mereka, setelah seribu satu alasan untuk berhusnudzhan. Kini ku termenung kembali akan hakikat da'wah ini. Sebenarnya apa yang kita cari dari da'wah? Dimanakah yang dinamakan konsep amal jama'I yang sering diceritakan indah? Apakah itu hanya pemanis cerita tentang da'wah belaka? Apakah ini yang disebut ukhuwah? Sering terlontarkannya kata-kata "afwan akh, ana gak bisa bantu banyak…" atau sms yang berbunyi "afwan akh, ana gak bisa datang untuk syuro malam ini…" atau kata-kata berawalan "afwan akh…" lainnya dengan seribu satu alasan yang membuat seorang akh tidak bisa hadir untuk sekedar merencanakan strategi-strategi da'wah kedepannya. Kalau memang seperti itu hakikat da'wah maka cukup sudah "Izinkan aku untuk cuti dari da'wah ini", mungkin untuk seminggu, sebulan, setahun atau bahkan selamanya. Lebih baik aku konsenstrasi dengan studiku yang kini sedang berantakan, atau dengan impian-impianku yang belum terpenuhi, atau… dengan lebih memperhatikan ayah dan ibuku yang sudah semakin tua, toh tanpa aku pun da'wah tetap berjalan, bukan???

Sahabat-sahabatku… . Memang dalam dunia da'wah yang sedang kita geluti seperti sekarang ini, tidak jarang kita mengalami konflik atau permasalahan- permasalahan. Dari sekian permasalahan tersebut terkadang ada konflik-konflik yang timbul di kalangan internal aktivis
da'wah sendiri. Pernah suatu ketika dalam aktivitas sebuah barisan da'wah, ada seorang ikhwan yang mengutarakan sakit hatinya terhadap saudaranya yang tidak amanah dengan tugas dan tanggungjawab da'wahnya. Di lain waktu di sebuah lembaga dakwah kampus, seorang akhwat "minta cuti" lantaran sakit hatinya terhadap akhwat lain yang sering kali dengan seenaknya berlagak layaknya seorang bos dalam berda'wah. Pernah pula suatu waktu seorang kawan bercerita tentang seorang ikhwan yang terdzalimi oleh saudara-saudaranya sesama aktifis da'wah. Sebuah kisah nyata yang tak pantas untuk terulang namun penuh hikmah untuk diceritakan agar menjadi pelajaran bagi kita. Ceritanya, di akhir masa kuliahnya sebut saja si X (ikhwan yang terdzalimi) hanya mampu menyelesaikan studinya dalam waktu yang terlalu lama, enam tahun. Sedangkan di lain sisi, teman-temannya sesama (yang katanya) aktifis da'wah lulus dalam waktu empat tahun. Singkat cerita, ketika si X ditanya mengapa ia hanya mampu lulus dalam waktu enam tahun sedangkan teman-temannya lulus dalam waktu empat tahun? Apa yang ia jawab? Ia menjawab "Aku lulus dalam waktu enam tahun karena aku harus bolos kuliah untuk mengerjakan tugas-tugas da'wah yang seharusnya dikerjakan
oleh saudara-saudaraku yang lulus dalam waktu empat tahun." Subhanallah… di satu sisi kita merasa bangga dengan si X, dengan militansinya yang tinggi beliau rela untuk bolos dan mengulang mata kuliah demi terlaksananya roda da'wah agar terus berputar dengan mengakumulasikan tugas-tugas da'wah yang seharusnya dikerjakan teman-temannya. Namun di sisi lain kita pun merasa sedih… sedih dengan kader-kader da'wah (saudara-saudaranya Si X) yang dengan berbagai macam alasan duniawi rela meninggalkan tugas-tugas da'wah yang seharusnya mereka kerjakan. Sahabat…. Semoga kisah tersebut tidak terulang kembali di masa kita dan masa setelah kita, cukuplah menjadi sebuah pelajaran berharga…. Semoga kisah tersebut membuat kita sadar, bahwa setiap aktifitas yang di dalamnya terdapat interaksi antar manusia, termasuk da'wah, kita tiada akan bisa mengelakkan diri dari komunikasi hati. Ya, setiap aktifis da'wah adalah manusia-manusia yang memiliki hati yang tentu saja berbeda-beda. Ada aktifis yang hatinya kuat dengan berbagai macam tingkah laku aktifis lain yang dihadapkan kepadanya. Tapi jangan pula kita lupa bahwa tidak sedikit aktifis-aktifis yang tiada memiliki ketahanan tinggi dalam menghadapi tingkah polah aktifis da'wah lain yang kadang memang sarat dengan kekecewaan-kekecewaan yang sering kali berbuah pada timbulnya sakit hati. Dan kesemuanya itu adalah sebuah kewajaran sekaligus realita yang harus kita pahami dan kita terima. Namun apakah engkau tahu wahai sahabat-sahabatku? Tahukah engkau bahwa seringkali kita melupakan hal itu? Seringkali kita memukul rata perlakuan kita kepada sahabat-sahabat kita sesama aktifis da'wah, dengan diri kita sebagai parameternya. Begitu mudahnya kita melontarkan kata-kata "afwan", "maaf" atau kata-kata manis lainnya atas kelalaian-kelalaian yang kita lakukan, tanpa dibarengi dengan kesadaran bahwa sangat mungkin kelalaian yang kita lakukan itu ternyata menyakiti hati saudara kita. Dan bahkan sebagai pembenaran kita tambahkan alasan bahwa kita hanyalah manusia biasa yang juga
dapat melakukan kekeliruan. Banyak orang bilang bahwa kata-kata "afwan", "maaf" dan sebagainya akan sangat tak ada artinya dan akan sia-sia jika kita terus-menerus mengulangi kesalahan yang sama.
Wahai sahabat-sahabatku… memang benar bahwasanya aktifis da'wah hanyalah manusia biasa, bukan malaikat, sehingga tidak luput dari kelalaian, kesalahan dan lupa. Tapi di saat yang sama sadarkah kita bahwa kita sedang menghadapi sosok yang juga manusia biasa? Bukan superman, bukan pula malaikat yang bisa menerima perlakuan seenaknya. Sepertinya adalah sikap yang naif ketika kesadaran bahwa aktifis da'wah hanyalah manusia biasa, hanya ditempelkan pada diri kita sendiri. Seharusnya kesadaran bahwa aktifis da'wah adalah manusia biasa itu kita tujukan juga pada saudara kita sesama aktivis da'wah, bukan cuma kepada kita sendiri. Dengan begitu kita tidak bisa dengan seenaknya berbuat sesuatu yang dapat mengecewakan, membuat sakit hati, yang bisa jadi merupakan sebuah kezhaliman kepada saudara-saudara kita.
Sahabat…adalah bijaksana bila kita selalu menempatkan diri kita pada diri orang lain dalam melakukan sesuatu, bukan sebaliknya. Sehingga semisal kita terlambat atau tidak bisa datang dalam sebuah aktivitas da'wah atau melakukan kelalaian yang lain, bukan hanya kata "afwan"
yang terlontar dan pembenaran bahwa kita manusia biasa yang bisa terlambat atau lalai yang kita tujukan untuk saudara kita. Tapi sebaliknya kita harus dapat merasakan bagaimana seandainya kita yang menunggu keterlambatan itu? Atau bagaimana rasanya berjuang sendirian tanpa ada bantuan dari saudara-saudara kita? Sehingga dikemudian hari kita tidak lagi menyakiti hati bahkan menzhalimi saudara-saudara kita. Sehingga kata-kata "Akhi… ukhti… Izinkan aku cuti dari dakwah ini" tidak terlontar dari mulut saudara-saudara kita sesama aktifis dakwah.
Semoga…

Sudahkah Saya Tarbiyah?



Sudahkah Saya Tarbiyah?

Ia adalah pertanyaan yang tidak saja penting untuk dijawab, bahkan menentukan sebagian masa depan saya; masa depan tarbiyah dan masa depan saya pada umumnya.

Sekian tahun saya menikmati tarbiyah, sampailah saatnya saya pada satu titik. Satu titik yang mempertanyakan apakah sesungguhnya saya sudah tarbiyah? Apakah saya sudah tarbiyah bukan karena saya telah memiliki murabbi; bukan karena saya telah memiliki halaqah; bukan karena saya telah menjadwal liqa’ pekanan; dan juga bukan karena aspek lainnya. Namun, lebih kepada pengertian bahwa apakah saya telah berubah? Apakah saya telah memiliki kemampuan mengubah? Sejauh manakah saya telah merasakan sakitnya perubahan? Sejauh manakah pula kerelaan saya untuk berubah? Atau saya tetaplah saya yang dulu; tak berubah karena tarbiyah dan tak mengubah dengan tarbiyah. Benarkah tarbiyah saya? Benarkah saya sudah tarbiyah?

Mempertanyakan apakah saya telah tarbiyah adalah sesuatu yang tak terhindarkan pada saat materi tarbiyah relatif telah berkumpul; ketika pengalaman telah cukup mewarnai cara pandang; ketika murabbi telah beberapa kali berganti; dan ketika halaqah telah bervariasi. Hal yang terpenting adalah ketika saya mencoba menatap masa depan. Benarkah saya telah tarbiyah?

Jakarta, 8 Mei 2009

Saatnya TARBIYAH [belajar]


KHILAFAH TELAH HAMPIR 100 KERUNTUHANNYA,,,
Tiada sisa lagi,,, mereka [PARA PEMBERI CONTOH] yang pernah hidup dimasa itu telah pergi,,,
Meninggalkan teori-teori dan peninggalan-peninggalan masa keemasan,,,

Mereka [PARA PEMBERI CONTOH] yang pernah hidup dimasa itu telah pergi,,,
Siapakah yang sanggup membimbing dan mengajari kita menata ulang bata-bata khilafah yang telah RUBUH itu???

BUKAN SAATNYA mengenang sejarah, saatnya berbuat,,,!!!

Berbuat DARI MANA??

BERBUATLAH dan Belajar dari KESALAHANsaatnya

TARBIYAH [belajar]....!!!!!!!!!! bukan TERIAK2

Saatnya TARBIYAH [belajar]
Membentuk pribadi Islami ==> keluarga Islami

Saatnya TARBIYAH [belajar]
Memperbaiki AQIDAH UMMAT

Saatnya TARBIYAH [belajar]
Menjadi RT/RW
menjadi LUrah

Saatnya TARBIYAH [belajar]
Menjadi kepala sekolah ==> Kadis

Saatnya TARBIYAH [belajar]
Kepala Kantor ==> Dirjen

Saatnya TARBIYAH [belajar]
Menjadi Menteri

Saatnya TARBIYAH [belajar]
Menjadi DPR/MPR ==> Ahlul Hal wal aqdy

Saatnya TARBIYAH [belajar]
Mengelola Bank Syariah ==> Lembaga Zakat ==> baitul maal

saatnya TARBIYAH [belajar]
menjadi Camat ==> Sekda, ==> BUpati/Walikota

Saatnya TARBIYAH [belajar]
Menjadi MENTERI ==> WAZIR

Saatnya TARBIYAH [belajar]
Menjadi gubernur ==> PRESIDEN ==> KHILAFAH

Saatnya TARBIYAH [belajar]....!!!!!!!!!! bukan TERIAK2

Syair Pejuang Dakwah



Syair Pejuang Da'wah

Kepada Ikhwati fillah, inni uhibbu kullukum jiddan,

Kepada ikhwati fillah, tentara Allah dan pejuang da'wah,

Katakanlah "Inilah jalanku, aku mengajaK kalian kepada Allah dengan bashiroh, aku dan pengikutku -Maha Suci Allah, dan aku bukan termasuk orang-orang musyrik."

Jalan da'wah adalah jalan yang terbentang jauh kedepan,
Duri dan batu terjal selalu mengganjal, lembah dan bukit menghadang,
Ujungnya bukan di usia dan bukan pula di dunia,
Tetapi cahaya maha cahaya, syurga dan ridho Allah,

Cinta adalah sumbernya, hati dan jiwa adalah rumahnya,
Pergilah ke hati manusia, ajaklah kejalan Robbmu,

Jika engkau cinta maka da'wah adalah
"FAHAM"

Mengerti tentang islam, risalah anbiya dan warisan ulama,
Hendaknya engkau fanatis dan bangga dengannya,
Seperti Khalid bin Walid dihadapan Geourgius panglima Romawi,

Jika engkau cinta, maka da'wah adalah
"IKHLAS"

Menghiasi hati, memotivasi jiwa untuk berkarya
"Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah semata bagI Rabb semesta alam"

Jika engkau cinta, maka da'wah adalah
"AMAL"

Berbuat tanpa banyak berkata-kata,
Bergerak tanpa menunggu perintah,
Karena da'wah adalah milik Allah semata,
Biarlah Allah, Rasul, dan orang-orang beriman yang melihat,

Jika engkau cinta, maka da'wah adalah
"JIHAD"

Sungguh-sungguh di medan perjuangan, melawan kebathilan,
Balasannya adalah syurga dan ridho Allah,
Kerja keras tak kenal lelah adalah rumusnya,
Tinggalkan kemalasan, lamban dan berpangku tangan,

Jika engkau cinta, maka da'wah adalah
"THA'AT"

Kepada Allah, Rasul, Al Quran, dan Sunnahnya,
Serta Pemimpin yang bertaqwa diantara kamu,
Tha'at adalah wujud syukurmu kepada hidayah Allah,
Karenanya nikmat akan bertambah melimpah penuh berkah,

Jika engkau cinta, maka da'wah adalah
"TADHIYAH"

Bukti kesetiaan dan kesiapan memberi, pantang meminta,
Bersedialah banyak kehilangan dengan sedikit menerima,
Karena yang disisi Allah sungguh lebih mulia, sedangkan di sisimu fana,
Padahal setiap keringat pahala berlipat ganda,

Jika engkau cinta maka da'wah adalah
"TSABAT"

Hati dan jiwa yang tegar walau banyak rintangan,
Buah dari sabar meniti jalan, teguh dalam barisan,
Istiqomah dalam perjuangan dengan kaki tak tergoyahkan,
Berjalan lurus jauh dari penyimpangan
,
Jika engkau cinta, maka da'wah adalah
"TAJARRUD"

Ikhlas di setiap langkah mencapai satutujuan,
Padukan seluruh potensi, melibatkan diri dalam jalan ini,
Engkau da'i sebelum segala sesuatu,
Da'wah adalah tugas utama-mu sedang lainnya hanyalah selingan,

Jika engkau cinta, maka da'wah adalah
"UKHUWWAH"

Lekatnya ikatan hati terjalin dalam nilai-nilai persaudaraan,
Bersaudaralah dengan muslimin sedunia, utamanya para mukmin mujahidin,
Lapang dada merupakan syarat terendahnya,
Sedang itsar adalah bentuk tertingginya,
Dan sesungguhnya Allah menghimpun hati para da'i dalam cinta-NYA,
Berjumpa karena taat kepada-NYA,
Melebur dalam satu da'wah dijalan-NYA, saling berjanji untuk menolong syariat-NYA,

Jika engkau cinta, maka da'wah adalah
"TSIQOH"

Kepercayaan yang dilandasi iman suci penuh keyakinan,
Kepada Allah Rasul, Qiyadah, dan Jundinya,
Hilangkan keraguan dan pastikan kejujurannya,
Karena inilah kafilah da'wah yang penuh berkah,

Wallahu'alam,,,

Jakarta, 26 November 2010

Popular Posts

Blog Archive

Definition List

3/Music/post-grid

Unordered List

3/Business/post-per-tag

Support

5/Business/slider-tag