Comments

3/recent-comments
Tampilkan postingan dengan label CURHAT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CURHAT. Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 Januari 2015

Ketika Allah Memilih'mu' Untukku



Pada'mu' yang Allah pilihkan dalam hidupku,
Ingin ku beri tahu pada'mu',
Aku hidup dan besar dari keluarga bahagia,
Orang tua yang begitu sempurna,
Dengan cinta yang begitu membuncah,
Aku dibesarkan dengan limpahan kasih yang tak terhingga,

Maka, pada'mu' ku katakan,
Saat Allah memilih'mu' dalam hidupku,
Maka saat itu Dia berharap, 'kau' pun sanggup melimpahkan cinta padaku,
Memperlakukanku dengan sayang yang begitu indah,

Pada'mu' yang Allah pilihkan untukku,
Ketahuilah, aku hanya lelaki biasa dengan begitu banyak kekurangan dalam diriku,
Aku bukanlah lelaki sempurna, seperti yang mungkin 'kau' harapkan,
Maka, ketika Dia memilih'mu' untukku,
Maka saat itu, Dia ingin menyempurnakan kekuranganku dgn keberadaan'mu'.
Dan aku tahu, 'kau'pun bukanlah wanita yang sempurna,
Dan ku berharap ketidaksempurnaanku mampu menyempurnakan diri'mu',
Karena kelak kita akan satu,
Aib'mu' adalah aibku, dan indah'mu' adalah indahku,
'Kau' dan aku akan menjadi 'kita',

Pada'mu' yg Allah tetapkan sebagai permaisuriku,
Ingatlah, Aku adalah mahlukNya yg biasa,
Ada kalanya aku akan begitu membuat'mu' marah,
Maka, ketahuilah, Saat itu Dia menghendaki 'kau' menasihatiku dengan hikmah,
Sungguh hatiku tetaplah lelaki yg lemah pada kelembutan,
Namun cobalah 'kau' luruskanku jika aku salah,

Tapi jangan membiarkanku begitu saja,
karena akan selamanya aku salah,
Namun tatap mataku, tersenyumlah,
Tenangkan aku dgn genggaman tangan'mu',
Dan nasihati aku dgn bijak dan hikmah,
Niscaya, 'kau' akan menemukanku tersungkur menangis di pangkuan'mu',
Maka ketika itu, 'kau' kembali memiliki hatiku,

Pada'mu' yang Allah tetapkan sebagai tempat hunianku,
Ketahuilah, ketika ijab atas nama'mu' telah ku lontarkan,
Maka dimataku 'kau' adalah yang terindah,
Kata2'mu' adalah titah untukku,
Selama tak bermaksiat pada Allah, akan ku penuhi semua mau'mu',
Maka kalau 'kau' berkenan ku meminta,
Jadilah hunian yg indah, yang kokoh,
Yang mampu membuatku dan anak-anak
kita nyaman dan aman di dalamnya,

Pada'mu' yang Allah pilih menjadi pendamping hidupku,
Dalam istana kecil kita akan hadir buah hati-buah hati kita,
Maka didiklah mereka menjadi generasi yg dirindukan syurga,
Yang di pundaknya akan diisi dgn amanah da'wah,
Yang ruh dan jiwanya selalu merindukan jihad,
Yang darahnya mengalir darah syuhada,
Dan ku yakin dari tangan'mu' yg penuh berkah,
'kau' mampu membentuk mereka,
Dengan hati'mu' yg penuh cinta,
'kau' mampu merengkuh hati mereka,
Dan aku akan selalu jatuh cinta pada'mu',

Pada'mu' yang Allah pilih sebagai pendampingku,
Ku memohon pada'mu', Ridholah padaku,
Sungguh Ridhomu adalah Ridho Ilahi Rabbi,
Mudahkanlah jalanku ke Surga-Nya,
Karena bagiku 'kau' adalah kunci Surgaku,

Pelalawan, 21 Juni 2013

Dalam Sujud Terakhirku,,,



Dalam sujud terakhirku Ya Allah... Kuteriakkan Asma-Mu sekeras-kerasnya, Agar runtuh dinding kesombongan dalam hatiku, Dalam sujud terakhirku Ya Rabbi... Ku menangis sejadi-jadinya biar kering mata ini namun basah ladang hati yang gersang, Dalam sujud terakhirku Ya Rahman... Kulihat semua dosa yang membayangiku kelam mencengkram jiwa yang lusuh, Dalam sujud terakhirku Ya Rahim... Biarkan aku patah dalam cahayaMu Biarkan kumusnahkan titik-titik kemunafikanku agar ku kembali dalam pelukan hidayahMu, Dalam sujud terakhirku... Biarkan aku hirup nafasku sekali lagi hanya untuk menyebut namaMu dan kekasihMu tercinta...

WAQFAH TARBAWIYAH (untuk saudara/saudari yang telah pergi meninggalkan Tarbiyah)


Bawalah sejenak ingatan kita
Terbang, melayang,,,
bawa kita pada sebuah tempat
Dimana kita pertama kali mengenal TARBIYAH
Ingatkah kita?

Pada lantai yang kita duduki pertama kali
Pada dinding-dinding bisu mengamati
Pada atap teduh menaungi
Ingatkah kita?

Pada senyum tulus ikhwah dalam halaqah kita
Pada wajah teduh dan berwibawa guru kita
Pada untaian kata yang menyejukkan hati kita
Ingatkah kita?

Kali pertama jumpa dengan TARBIYAH
Begitu indah hidup terasa
Begitu khusyu’ ibadah kita
Begitu menyala ghirah jihad dalam dada
Begitu bersih dan segar wudhu membasuh wajah kita

Tak ada yang sesejuk ketika mengenal IMAN dalam TARBIYAH
Tak ada yang senikmat memaknai UKHUWAH dalam TARBIYAH
Tak ada yang semanis lembar-lembar kenangan dalam TARBIYAH
Tak ada,,,

Meski ada PAHIT di atas MANIS

Meski ada SAKIT di atas TAWA
Meski ada LUKA di atas BAHAGIA

Meski ada DUKA di atas SUKA
Meski ada linangan AIR MATA di atas MATA AIR jutaan makna

Sadarkah kita?
Pandanglah jiwa dan wajah kita
Yang atas ijinNya masih berada dalam TARBIYAH
Lihatlah,,,
apa yang telah diperbuat TARBIYAH atas diri kita
Dibuatnya KUAT diri kita

Dalam PAHIT, SAKIT, LUKA, DUKA & LINANGAN AIRMATA
Masih ada MANIS, TAWA, BAHAGIA, SUKA & MATA AIR makna
Atas alasan apa kita larut dalam kecewa?
Selalu ada alasan untuk bisa mencintai jalan ini,,,
Laksana setianya GUNUNG yang mengajarkan arti ISTIQOMAH
Atas alasan apa kita lari dari TARBIYAH?
Padahal kita tau kesendirian membawa bahaya dunia fana sungguh memperdaya

Bertahanlah,,, Kembalilah,,,
Pintu TARBIYAH selalu terbuka untuk kita
Bersama kita rengkuh cahaya mahabbahNya
Biar kuntum cintaNya mekar dalam hati kita

Jakarta 30 Agustus 2012

Kenapa Aku Harus Sedih?



Kenapa aku harus sedih?
Aku tak mau sedih...!

Kenapa aku mau menangis?
Ternyata seorang pria pun dengan mudah dapat menangis...
Tapi aku tak mau menangis, namun kenapa air mata itu susah ku tadah dalam lubuk hatiku
Terkejut... Tersentak!
Ternyata hari kemarin dengan hari ini berbeda jauh...
Yah... hari kemarin dengan hari ini sungguh berbeda meskipun seakan menghibur?

Tak apa-lah, aku juga mengerti ibarat hati bertanya siapa-lah aku?
Ternyata pria seperti ku tidak lain seorang anak yang cengeng...! Tersentak hanya karena satu kata
Semangat seakan usang namun jangan ah... pantang semua itu bagiku

Siapa-lah aku?
Aku hanya pria biasa...
Tak perlu mencoba menghibur, percuma...! Hatiku seakan mati, sekujur tubuhku terasa kaku, menghela nafas hanya tuk menahan sesak, dadaku terasa berat menahan segumpal bercak yang baru saja menimpaku. Ternyata bercak itu suatu biasan hari kemarin dan sebelumnya yang sebelumnya membias rasa, semerbak wangi dan menyuguhkan harap

Siapa-lah aku?
Ternyata aku hanyalah seorang pria yang tak ada apa-apa?
Ku tahan semua..........
Biarlah.........!!!!!!!!!!!!!!

11 Januari 2010

Saat Malas

ZZzzzZZZzzzZzzz....

Salah satu hal yang paling membuatku sedih adalah kebodohanku.
Dan setiap kali menyadari kebodohanku, aku teringat akan dosa2 ku.
Dosa - dosa ini, telah menghalangiku dari Limpahan ilmu dari ٱللهِ,
Bukankah ilmu itu adalah cahaya.
Dan Cahaya Allah tidak akan diberikan pada para pelaku maksiat.
Astaghfirulllah... Astaghfirullaahaladziim... T_T

Atau kapankah diri ini bisa seperti an-Nawawi, yang bercerita:
Saat aku lelah menulis dan membaca. Di atas buku-buku kuletakkan kepala.
Dan saat pipiku menyentuh sampulnya, hatiku tersengat, kewajibanku masih berjebah.
Bagaimana mungkin aku bisa beristirahat?

Yaa Rabbi, ampuni hamba-Mu yang lemah dan malas ini...

Jakarta, 12 November 2009

Baik-baik Sayang (Wali)

lagi maen gitar

Aku tak ingin kau menangis bersedih
Sudahi air mata darimu
Yang aku ingin arti hadir diriku
Tuk menghapus dukamu sayang

Karena bagiku kau kehormatanku
Dengarkan, dengarkan aku

Hanya satu pintaku untukmu dan hidupmu
Baik-baik sayang ada aku untukmu
Hanya satu pintaku di siang dan malammu
Baik-baik sayang karna aku untukmu

Semua keinginan akan aku lakukan
Sekuat semampuku sayang

Karena bagiku kau kehormatanku
Dengarkan, dengarkan aku

Rabb, Ternyata Aku Lupa...



Hari ini...
Aku terluka
Disayat kepahitan
Dan bersemai benih kepiluan
Namun hampa
Kesedihan terus merantai
Menjerat tanpa celah

Rabb...
Mengapa bahagia meninggalkanku
Menyemai kesedihan
Menyisakan duka
Sepekat tirai malam
Dan hanya menyisakan tangis

Rabb...
Jangan tinggalkan aku
Dalam kegersangan cinta-Mu
Lemah tanpa sandaran

Rabb...
Ternyata aku salah
Aku benar-benar tak melihat
Meski aku punya mata indah
Rabb...
Ternyata aku benar-benar khilaf
Aku tak mendengar
Meski aku punya telinga yang sempurna

Rabb...
Mengapa aku lupa?
Hinakah aku?
Hanya secuil syukur pada-Mu
Bahkan tidak sama sekali
Rabb...
Maafkan aku
Ridho-Mu pilihanku
Dalam tiap-tiap desah nafasku

INILAH CINTA...



Inilah cinta

Kala ruh, darah, dan jasad ini

Adalah bukti cinta para pecinta sejati

Layaknya jantung yang terkoyak milik Hamzah bin abdul mutthalib

Tubuh yang tercabik berpuluh pedang milik anas bin abi nadr di perang uhud

Hingga tiada terkenali kecuali dari jarinya yang tersisa

Inilah cinta

Kala maal, jiwa dan raga

Adalah saksi cinta tak terbantahkan

Cinta Abu Bakar yang tak ragu menginfakkan segala hartanya bagi Islam dan

Mentsiqohkan keluarganya pada Rabb dan RasulNya

Inilah cinta

Kala tetesan peluh, tetesan darah, degupan jantung

Menoreh sejarah sepanjang masa

Cinta seorang Hasan al banna yang menggelora akan kebangkitan Islam

Tetesan darah yang menjadi saksi jihad, dan sisa detak jantung yang terus
menabuhkan genderang jihad hingga detik ini

kala tak satupun orang yang boleh menolongnya, dan asy syahid Hasan al banna
syahid kala tetes darahnya berakhir

Inilah cinta...

Cinta yang membuat khalid bin walid lebih menyukai malam-malam dingin di
medan jihad

Dibandingkan malam-malam hangat bersama istri tercintanya

Inilah cinta..

Yang terlukis dari senyuman indah Sayid Qutb kala kerinduannya bertemu
Rabbnya terkabul dari tiang gantungan

Inilah cinta

Kala Nusaibah dan Al Khansa

Rela menginfakkan keluarganya dan berdarah-darah demi menjaga Rasulullah

Ikhwati fillah inilah cinta..

Cinta yang membuat manusia biasa menjadi manusia-manusia langit

Cinta yang membuat kekasih kita Rasulullah saw

Di akhir hidupnya terus berkata umati.umati. umati

Inilah cinta yang terang

Cinta yang berbuah jannati

Cinta para pecinta sejati

Jakarta 30 Juni 2009

Sebuah Dialog Selepas Malam : Jama`ah dakwah ini adalah jama`ah manusia.



Sebuah Dialog Selepas Malam

Jama`ah da'wah ini adalah jama`ah manusia.
Di dalamnya berkumpul semua potensi manusiawi.
Di dalamnya berkumpul semua kebaikannya.
Sekaligus juga keburukannya.

“akhi, dulu ana merasa semangat saat aktif dalam da'wah. Tapi belakangan rasanya semakin hambar. Ukhuwah semakin kering. Bahkan ana melihat ternyata ikhwah banyak pula yang aneh-aneh. “Begitu keluh kesah seorang mad`u kepada murobbinya di suatu malam. Sang murobbi hanya terdiam, mencoba terus menggali semua kecamuk dalam diri mad`unya. “Lalu, apa yang ingin antum lakukan setelah merasakan semua itu??” sahut sang murobbi setelah sesaat termenung. “Ana ingin berhenti saja, keluar dari tarbiyah ini. Ana kecewa dengan perilaku ikhwah yang justru tidak islami. Juga dengan organisasi da'wah yang ana geliti, kaku dan sering mematikan potensi anggota-anggotanya. Bila begini terus, ana mendingan sendiri saja…” jawab mad`u itu. Sang murobbi termenung kembali. Tidak tampak raut terkejut dari roman wajahnya. Sorot matanya tetap terlihat tenang, seakan jawaban itu memang sudah diketahuinya sejak awal.

“Akhi, bila suatu kali antum naik sebuah kapal mengarungi lautan luas. Kapal itu ternyata sudah amat bobrok. Layarnya banyak berlubang, kayunya banyak yang keropos bahkan kabinnya bau kotoran manusia. Lalu, apa yang akan antum lakukan untuk tetap sampai pada tujuan?”, Tanya sang murobbi dengan kiasan bermakna dalam. Sang mad`u terdiam berpikir. Tak kuasa hatinya mendapat umpan balik sedemikian tajam melaui kiasan yang amat tepat. “Apakah antum memilih untuk terjun kelaut dan berenang sampai tujuan ?”, sang muarobbi mencoba memberi opsi.

“Bila antum terjun ke laut, sesaat antum akan merasa senang. Bebas dari bau kotoran manusia, merasakan kesegaran air laut, atau bebas bermain dengan lumba-lumba. Tapi itu hanya sesaat. Berapa kekuatan antum untuk berenag hingga tujuan ? Bagaimana bila ikan hiu datang? Dari mana antum mendapat makan dan minum? Bila malam datang, bagaimana antum mengatasi hawa dingin?’ serentetan pertanyaan dihamparkan dihadapan sang mad`u.

Tak ayal, sang mad`u menangis tersedu. Tak kuasa rasa hatinya menahan kegundahan sedemikian. Kecewanya kadang memuncak, namun sang murobbi yang dihormatinya justru tidak memberi jalan keluar yang sesuai dengan keinginannya. “Akhi.. apakah antum masih merasa bahwa jalan dakwah adalah jalan yang paling utama menuju ridho Allah?” pertanyaan menohok ini menghujam jiwa sang mad`u. Ia hanya mengangguk. “ Bagaimana bila ternyata mobil yang antum kendarai dalam menempuh jalan itu ternyata mogok? Antum akan berjalan kaki meninggalkan mobi itu, tergeletak di jalan, atau mencoba memperbaikinya?” Tanya sang murobbi lagi. Sang mad`u tetap terdiam dalam sesegukan tangis perlahannya. Tiba-tiba ia mengangkat tangannya; “Cukup akhi, cukup. Ana sadar. Maafkan ana…Ana akan tetap istiqomah. Ana berdakwah bukan untuk mendapat medali kehormatan. Atau agar setiap kata-kata ana diperhatuikan…”

“Biarlah yang lain dengan urusan pribadi masing-masing. Biarlah ana tetap berjalan dalam dakwah. Dan hanya Allah saja yang akan membahagiakan ana kelak dengan janji-janjiNya. Biarlah segala kepedihan yang ana rasakan menjadi pelebur dosa-dosa ana”, sang mad`u berazzam dihadapan murobbi yang semakin dihormatinya.

Sang murobbi tersenyum. “Akhi..jama`ah ini adalah jama`ah manusia. Mereka adalah kumpulan insan yang punya banyak kelemahan. Tapi dibalik kelemahan itu, masih banyak kebaikan yang mereka miliki. Mereka adalah pribadi-pribdi yang menyambut seruan Allah untuk berdakwah. Dengan begitu, mereka sedang berproses menjadi manusia terbaik pilihan Allah.” Bila ada satu atau dua kelemahan dan kesalahan mereka, janganlah hal itu mendominasi perasaan antum. Sebagaimana Allah Ta`ala menghapus dosa manusia dengan amal baik mereka, hapuslah kesalahan mereka dimata antum dengan kebaikan-kebaikan mereka terhadap dakwah selama ini. Karena di mata Allah, belum tentu antum lebih baik dari mereka.”

“Futur, mundur, kecewa atau bahkan berpaling menjadi lawan bukanlah jalan yang masuk akal. Apabila setiap ketidak-sepakatan selalu disikapi dengan jalan itu; maka kapankah dakwah ini dapat berjalan dengan baik?” Sambungnya panjang lebar. “Kita bukan sekedar pengamat yang hanya bisa berkomentar. Atau hanya pandai menuding-nuding sebuah kesalahan. Kalau hanya itu, orang kafirpun bias melakukannya. Tapi kita adalah da`i. Kita adalah khalifah. Kitalah yang diserahi amanat oleh Allah untuk membenahi masalah-masalah di muka bumi. Bukan hanya mengeksposnya, yang biasa jadi justru semakin memperuncing masalah.”Jangan sampai kita seperti menyiram bensin ke sebuah bara api. Bara yang tadinya kecil tak bernilai, bisa menjelma menjadi api yang membakar apa saja. Termasuk kita sendiri!”

Sang mad`u termenung merenungi setiap kalimat murobbinya. Azzamnya memang kembali menguat. Namun ada satu hal tetap bergelayut di hatinya. “Tapi bagaimana ana bisa memperbaiki organisasi dakwah dengan kapasitas ana yang lemah ini?’ sebuah pertanyaan konstruktif akhirnya muncul juga.

“Siapa bilang antum lemah? Apakah Allah mewahyukan begitu kepada antum? Semua manusia mempunyai kapasitas yang berbeda. Namun tidak ada yang bisa menilai bahwa yang satu lebih baik dari yang lain”, sahut sang murobbi. “Bekerjalah dengan ikhlas. Berilah tausiah dalam kebenaran, kesabaran dan kasih saying kepada semua ikhwah yang terlibat dalam organisasi itu. Karena peringatan selalu berguna bagi orang beriman. Bila ada sebuah isyu atau gosip, tutuplah telinga antum dan bertaubatlah. Singkirkan segala ghil antum terhadap saudara antum sendiri. Dengan itulah, Bilal yang mantan budak hina menemui kemuliaannya.”

Suasana dialog itu mulai mencair. Semakin lama, pembicaraan melebar dengan akrabnya. Tak teras kokok ayan jantan memecah suasana. Sang mad`u bergegas mengambil wudhu untuk qiyamullail malam itu. Sang murobbi sibuk membangunkan beberapa mad`unya yang lain dari asyik tidurnya. Malam itu, sang mad`u menyadari kesalahannya. Ia bertekad untuk tetap berputar bersama jama`ah dalam mengarungi jalan dakwah. Pencerahan diperolehnya. Demikian juga yang kami harapkan dari anda, pembaca…Wallahu a`lam.

Terima Kasih untuk yang Terindah



Terima Kasih untuk yang Terindah

Berjalan melirik spionase kehidupan
Tampak kelam dan hitam semua bayangan
Hiruk pikuk jiwa tergambar rinci
Semua itu tak dapat dipungkiri

Kini aku berusaha melihat ke depan
Mengambil hikmah dari semua pelajaran
Biarlah masa hitam itu terlewati
Akan ku ubah dengan mendekati cahaya Ilahi

Maafkan aku yang telah melukai kalian
Menyayat dan menghianati semua yang usang
Tapi kuyakin semuanya
Kalian adalah saudara saudariku nan beriman

Hanya satu yang ingin kuungkapkan
Terimakasih untuk semuanya
Semoga cinta dan sayang ini selalu karena-Nya
Tak lenyap oleh waktu dan masa

I just wanna say, i love you all because Allah SWT

Jakarta, 14 Mei 2009

Popular Posts

Blog Archive

Definition List

3/Music/post-grid

Unordered List

3/Business/post-per-tag

Support

5/Business/slider-tag